Sunday, 21 April 2013

Puisi 1 : DOA BUAT ANAK-ANAKKU

Layari juga: puisi-doa-untuk-ibu
                    puisi-tangisan-mata-bunda 
                    puisi-ibu-aku-tidak-akan-pernah-lupa
                    coretanku-mak-mak-memang-hebat
                    muhasabah-pagi

http://wilujeungs.blogspot.com
Ya Robb
Jika malam datang
Nyalakan bintang gemilang
Agar anakku tidak tersesat dalam gelap
Dan kembali mencari petunjuk arah
Menuju jalan-Mu

Ya Robb
Jika siang menjelang
Bakar keberanian di dadanya
Agar anakku tegar menghadapi dunia
Dan bertahan menghadapi ujiannya

Ya Robb
Jika purnama sempurna
Susupi dalam jiwa pancaran pesonanya
Agar ia mengenali keindahan
Dan menghadapi hidup ini dengan senyuman

Ya Robb
Saat fajar menyingsing
Bangunkan lelapnya
Agar hatinya cergas
Dan bersemangat menatap kehidupan

Ya Robb
Jika hujan turun
Basahi amarahnya dengan air arasy-Mu
Agar ia selalu tunduk dan tawadhu
Dalam menerima segala takdir-Mu

Ya Robb
Jadikan lautan sebagai takungan besarku
Agar mampu menampung samudera kasihku
Pada anak-anakku

Ya Robb
Jadikan bukit dan gunung tiang- tiang yang kokoh
Agar mampu menyokong selangit cintaku Pada anak-anakku

Ya Robb
Jadikan kebaikan mereka semua
Sebagai  asas rumah kami Di surga-Mu

Amin

by chandra

PUISI :Anakku Tercinta

http://ahlilbaitlombok.wordpress.com
Layari juga: puisi-doa-untuk-ibu
                    puisi-tangisan-mata-bunda
                    puisi-ibu-aku-tidak-akan-pernah-lupa
                    coretanku-mak-mak-memang-hebat
                    muhasabah-pagi

Wahai anakku tercinta.
Tetapkanlah Islam sebagai agamamu.
Tetapkanlah Allah sebagai Tuhanmu, dan tiada yg lain selain Dia.
Tetapkanlah Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.
Tetapkanlah Ahlilbait sebagai Imam pelanjut kenabian
Tetapkanlah Al Qur`an sebagai kitab dan penuntunmu.Wahai cahaya hatiku.
Ucap dua kalimah syahadat disetiap desah nafasmu.
Sembahyanglah lima waktu dalam hari harimu.
Berpuasalah sebulan dalam bulan Ramadhan.
Tunaikanlah haji ke Baitullah Rumah Allah jikalau kau mampu.

Tunaikanlah Khumus jikalau engkau mampu
Tunaikanlah zakat selagi kau mampu.
Jangan lupakan Infaq Sedekah dan menyantuni mereka yg tidak mampu.

Wahai bidadariku
Beriman selalu hanya kepada ALLAH SWT
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Malaikat-malaikat
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Kitab-kitab Al Qur`an dan kitab kitab sebelumnya
Berimanlah kepada nabi dan Rasul rasul
Yakinlah dan Berimanlah akan adanya Hari Kiamat
Yakinlah dan Berimanlah kepada Qada dan QadarWahai pesona jiwaku.
Hidupmu kelak akan lebih keras dan berat.
Lebih keras dan berat dari kehidupan kami orangtuamu.
Maka bekalkanlah dan perkuat keimanan dan ketaqwaan.
Agar kalian selamat sampai ditujuan hidupmu kelak.Wahai penyempurna hidupku.
Ingatlah dan camkanlah beberapa hal
Bahwa yang singkat itu WAKTU,
Yang dekat itu MATI,
Yang besar itu NAFSU,
Yang berat itu AMANAH,
Yang sulit itu IKHLAS,
Yang mudah itu BERBUAT DOSA
Yang abadi itu AMAL KEBAJIKAN,
Yang akan di investigasi itu AMAL PERBUATAN,
Yang jauh itu MASA LALU.
Persiapkanlah dirimu untuk semua hal itu.Wahai masa depanku.
hiduplah demi akhiratmu
karena itu yang akan abadi kekal selamanya
janganlah kalian hidup demi duniamu
karena itu hanya sementara dan bakal termakan waktu

Wahai permataku,
Doa orangtuamu selalu menyertaimu.
Semoga Allah selalu membimbingmu.
Semoga Allah selalu meredhaimu.
Semoga Allah selalu mendampingimu.
Dalam setiap langkahmu, doamu dan dalam semua kehidupanmu.

Puisi indah: DOA UNTUK ANAK-ANAKKU

 layari juga:  kerjaya-sebagai-pendidik
                     9-ciri-ciri-pendidik-yang-hebat
                     ciri2-yang-baik-sebagai-pendidik
                      kisah-pemimpin-islam-zainab-al-ghazali

http://kumpulanpuisidandoatahtarusli.blogspot.com
 
Ya Allah Ya Malikal Mulki,,,,

Bentuklah putera dan puteriku menjadi manusia yang cukup
kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah putera dan puteriku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan
cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Manusia yang sedar bahawa mengenal Engkau dan dirinya sendiri
adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Ya Allah Ya dzaljalali wal ikrami

Aku mohon, bimbinglah putera dan puteriku di jalan yang mudah dan lunak.
dan tuntunlah mereka apabila di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tentangan dengan Tawakal
Biarkan putera dan puteriku belajar untuk berdiri di tengah badai dengan kasih sayangMU
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah mereka berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah aku anak-anak yang mengerti makna

tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Anak-anak yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lalu

Dan, setelah semua menjadi miliknya...

Berikan mereka senyum dan tawa sehingga mereka dapat bersikap sungguh-sungguh
hingga mereka mampu menikmati hidupnya.

Ya Allah Ya Latif,,,

Berilah mereka kerendahan hati...
Agar mereka ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan iman serta kekuatan hidup yang sempurna...,Amiiiiin


Layari juga: puisi-doa-untuk-ibu
                    puisi-tangisan-mata-bunda
                    puisi-ibu-aku-tidak-akan-pernah-lupa
                    coretanku-mak-mak-memang-hebat
                    muhasabah-pagi

KISAH PEMUDA YANG BERNAMA ‘UZAIR

http://40yearsinmalaysia.wordpress.com
Pada suatu hari ketika ‘Uzair memasuki kebunnya yang menghijau dengan pokok-pokok tamar dan tiba-tiba hatinya telah terpesona serta tertarik untuk memikirkan rahsia keindahan dan keajaiban alam ini. Sesudah memetik buah-buahan dia pulang dengan keldainya sambil menikmati keindahan-keindahan alam sekitarnya sehingga keldai yang ditungganginya tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah dia sedar bahawa dia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali oleh beliau serta sudah jauh dari negerinya sendiri.
Sebaik sahaja dia sampai ke daerah itu dilihatnya kampung itu baru sahaja diserbu oleh musuh-musuh sehingga menjadi rosak-binasa sama sekali. Di tapak atau bekas runtuhan terdapat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan yang sudah busuk serta hancur. Melihatkan pemandangan yang mengerikan itu, dia pun turun dari keldainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Manakala keldainya itu ditambat di situ, kemudian dia pun duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh bagi melepaskan penatnya. Dalam pada itu, fikirannya mula memikirkan mayat manusia yang sudah busuk itu.
“Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan kembali di negeri akhirat?” begitulah pertanyaan yang datang bertalu-talu dan tidak terjawab olehnya sehingga dia menjadi lemah-longlai dan kemudian terus tertidur. Dalam tidur itu, dia seakan-akan bertemu dengan semua arwah (roh-roh) orang-orang yang sudah meninggal itu. Tidurnya amat luar biasa sekali, bukan hanya sejam atau semalam, tetapi dia telah tidur terus-menerus tanpa bangun-bangun selama seratus tahun lamanya.
Dalam masa dia tertidur itu, keadaan di sekitarnya sudah ramai lapisan baru, rumah serta bangunan-bangunan banyak yang telah didirikan. Dalam masa seratus tahun itu, segala-galanya sudah berubah, manakal ‘Uzair tetap terus tidur tersandar di dinding buruk itu menjadi jasad (tubuh) yang tidak bernyawa lagi. Dagingnya sudah hancur dan tulang belulangnya sudah hancur lebur berderai. Kemudian jasad ‘Uzair yang telah mati, daging dan tulangnya yang sudah hancur itu disusun kembali oleh Allah s.w.t. pada bahagiannya masing-masing lalu ditiupkan ruhnya. Dan ketika itu juga ‘Uzair hidup kembali seperti dahulu. ‘Uzair terus berdiri seperti orang yang bangun dari tidur lantas dia mencari keldai dan buah-buahannya di dalam keranjang dahulu.
Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, “Tahukah engkau ya ‘Uzair berapa lama engkau tidur?” Tanpa berfikir panjang ‘Uzair menjawab, “Saya tertidur sehari dua ataupun setengah hari.” Lalu malaikat pun berkata kepadanya, “Bahawa engkau terdampar di sini genap seratus tahun lamanya. Disinilah engkau berbaring, berhujan dan berpanas matahari, kadang-kadang ditiup badai dan berhawa sejuk dan juga panas terik. Dalam masa yang begitu panjang, makanan engkau tetap baik keadaannya. Tetapi cuba lihat keadaan keldai itu, dia sendiri pun sudah hancur dan dagingnya sudah busuk.”
Berkata malaikat lagi, “Lihatlah dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah s.w.t.Allah s.w.t. dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur dan dengan semudah itu pulalah Tuhan akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati itu nanti di akhirat untuk diperiksa dan diadili segala perbuatannya. Hal ini diperlihatkan oleh Tuhan kepada engkau supaya iman engkau tetap dan engkau sendiri dapat menjadi bukti kepada manusia-manusia lain supaya engkau dan manusia-manusia lain tiada syak dan ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan Tuhan tentang akhirat itu.”
Setelah ‘Uzair melihat makanan dan keldainya yang sudah hancur itu, maka ‘Uzair pun berkata, “Sekarang tahulah saya bahawa Allah s.w.t. itu adalah berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.” Tiba-tiba keldai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi seperti sediakala iaitu hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka ‘Uzair pun berkata, “Sekarang tahulah saya bahawa Allah s.w.t. berkuasa di atas segala-galanya.” Lalu dia pun terus mengambil keldainya dahulu dan terus menunggangnya pulang ke rumahnya dahulu dengan mencari-cari jalan yang sukar untuk dikenali. Dilihatnya segala-gala telah berubah. Dia cuba mengingati apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dahulu. Setelah menempuhi berbagai kesukaran, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Sebaik sahaja dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah pun buruk di mana segala dinding rumahnya telah habis runtuh. Semasa dia memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia ternampak seorang perempuan tua, lantas dia pun bertanya, “Inikah rumah tuan ‘Uzair?”
“Ya,” jawab perempuan itu. “Inilah rumah ‘Uzair dahulu, tetapi ‘Uzair telah lama pergi dan tiada didengar berita tentangnya lagi sehingga semua orang pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain kali ini sahaja.” Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata. ‘Sayalah ‘Uzair,” jawab ‘Uzair dengan pantas. “Saya telah dimatikan oleh Tuhanseratus tahun dahulu dan sekrang saya sudah dihidupkan oleh Allah s.w.t.kembali.” Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, “‘Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh Tuhan dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit tenat.” Sambunya lagi, “Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah tua dan lemah, mata saya telah pun buta kerana selalu menangis terkenangkan ‘Uzair. Kalaulah tuan ini ‘Uzair maka cubalah tuan doakan kepada Tuhan supaya mata saya terang kembali dan dapat melihat tuan.”
“Uzair pun menadah kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa ke hadratTuhan. Tiba-tiba mata orang rua itupun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah merenung wajah ‘Uzair dia pun berkata, “Benar, tuanlah ‘Uzair. Saya masih ingat.” Hambanya itu terus mencium tangan ‘Uzair lalu keduanya pergi mendapatkan orang ramai, bangsa Israil. ‘Uzair memperkenalkan dirinya bahawa dialah ‘Uzair yang pernah hidup di kampung itu lebih seratus tahun yang lalu.
Berita itu bukan sahaja mengejutkan bangsa Israil, tetapi ada juga meragukan dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran ‘Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, “Saya masih ingat bahawa bapa saya mempunyai tanda di punggungnya. Cubalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia ‘Uzair.”Tanda itu memang ada pada ‘Uzair, lalu percayalah sebahagian daripada mereka. Akan tetapi sebahagian lagi mahukan bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada ‘Uzair, “Bahawa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke atas bangsa dan negara Israil dan setelah tentera tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tiadalah seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat kecuali ‘Uzair sahaja. Kalau benarlah tuan Uzair, cubalah tuan sebutkan isi Taurat yang betul.”
‘Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahawa sungguh benar itulah ‘Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil punpercaya bahawa dialah ‘Uzair yang telah mati dan dihidupkan semual olehTuhan. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan ‘Uzair serta meminta nasihat dan panduan daripadanya. Tetapi sebahagian daripada kaum Yahudi yang bodoh menganggap ‘Uzair sebagai anak Tuhan pula.Maha Suci Allah tidak mempunyai anak samada ‘Uzair mahupun Isa kerana semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. Janganlah kita was-was tentang kekuasaan Allah s.w.t., maka hendaklah dia fikir siapakah yang menciptakan dirinya itu. Adalah mustahil sesuatu benda itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Allah s.w.t., ubatnya hanya satu sahaja, hendaklah dia membaca dan memahami al-Quran, was-was terhadap kekuasaan Allah s.w.t. itu hanya datangnya dari syaitan.
Allah s.w.t. telah meletakkan akal dalam kepala kita untuk berfikir, oleh itu gunakanlah akal kita untuk berfikir.

KISAH UMMU HABIBAH

http://sesuci-jiwa.blogspot.com/

Ummu Habibah atau nama sebenarnya Ramlah Binti Abu Sufyan. Inilah serikandi islam yang patut dijadikan teladan bagi muslimah zaman sekarang. Bagaimana tidak? orang-orang terdekat dan dicintainya merupakan musuh baginya. Mereka berusaha memurtadkan dan memalingkannya dari jalan kebenaran. Dialah salah seorang ummul mukminin yang banyak diuji keimanannya.

Ramlah Binti Abu Sufyan merupakan puteri kepada seorang pemimpin Quraisy dan orang-orang musyrik hingga penaklukan Mekah. Namun, Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dirinya untuk kafir ketika itu. Abu Sufyan tidak mampu memaksa anaknya ketika itu kerana anaknya menunjukkan pendirian yang kuat dan semangat yang tekad. Ramlah Binti Abu Sufyan rela menanggung beban yang melelahkan dan berat kerana memperjuangkan akidahnya.

Pada mulanya, beliau menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy, seorang muslim seperti beliau. Tatkala kekejaman kaum kafir terhadap kaum muslimin, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Habibah. Dengan nama anaknya inilah beliau digelar dengan Kun` yah Ummu Habibah.

Ummu habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan dirinya yang dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Bahkan terjadi musibah yang tidak dia sangka sebelumnya.

Beliau bercerita,

"Aku melihat dalam mimpi, suamiku dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Aku pun terperanjat dan bangun, kemudian aku memohon perlindungan kepada Allah SWT dari hal itu. Ternyata tatkala pagi suamiku telah memeluk agama Nasrani. Kuceritakan mimpiku kepadanya, namun ia tidak mengubah pendiriannya." 

Suaminya mencuba dengan segala kemampuan untuk memurtadkannya, namun Ummu Habibah tetap istiqamah. Bahkan beliau berusaha mengajak suaminya untuk kembali ke Islam, walaupun ditolak mentah-mentah dan malah suaminya semakin asyik dengan khamr. Hal ini berterusan hingga ia meninggal. Hari-hari berlalu di bumi hijrah, dengan ujian-ujian berat menemani Ummu Habibah. Tetapi dengan keimanan yang dikaruniakan Allah SWT, dirinya mampu menghadapinya.

Suatu malam, dia melihat dalam mimpinya ada yang memanggilnya;
"Wahai ummu mukminin...!"

Beliaupun terperanjat bangun. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah SAW kelak akan menikahinya. Setelah selesai masa iddah-nya, tiba-tiba ada seorang budak wanita (jariyah) dari Raja Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa Rasulullah SAW telah meminangnya.

Alangkah bahagianya beliau mendengar khabar gembira tersebut. Sehingga beliau berkata;
"Semoga Allah memberikan khabar gembira untukmu" 

Kerana terlalu gembira dengan khabar itu, beliau menanggalkan gelang kakinya lalu diberikan kepada budak wanita yang membawakan perkhabaran tersebut. Setelah itu, beliau meminta Khalid bin Sa'id bin Al-‘Ash untuk menjadi wakil baginya menerima lamaran Raja Najasy.

Rasulullah bertemu dengannya pada tahun ke enam atau ke tujuh Hijriyah. Ketika itu Ummu Habibah berumur 40 tahun. Ummu Habibah menempatkan urusan agama pada tempat yang pertama. Beliau utamakan akidahnya daripada keluarga. Beliau menyatakan bahwa kesetiaan beliau adalah tidak berbelah bahagi untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorang pun selain keduanya.

KISAH ASIAH BT MAHAZIM (ISTERI FIRAUN)

 http://sesuci-jiwa.blogspot.com

Tersebutlah alkisah di negeri Mesir terdapat kerajaan yang diketuai oleh raja yang terakhir bernama Fir’aun yang terkenal dengan keganasan dan tidak berperikemanusian. Setelah kematian isterinya beliau hidup bersendirian tanpa teman hidup. Pada ketika itu tersebutlah satu kisah di mana seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran yang baik-baik dan solehah yang bernama Siti Asiah yang sentiasa menjadi sebutan di kalangan pemuda-pemuda Mesir kerana keperibadian dan kejelitaannya.

Kisah kejelitaan Siti Asiah telah sampai ke telinga Fir’aun dan suatu hari beliau teringin untuk memperisterikan Asiah sebagai permaisurinya. Maka diutuskan seorang Menteri bernama Haman untuk merisik. Ibu bapa Asiah telah bertanya kepada tuan empunya diri tetapi Asiah telah menolak lamaran tersebut dan berkata kepada kedua ibu bapanya bahawa Fir’aun adalah seorang raja yang ingkar kepada Allah SWT dan tidak berperikemanusiaan.

Tidak lama kemudian Haman, utusan Fir’aun datang kembali untuk bertanyakan tentang lamaran tersebut dan alangkah marahnya beliau setelah mendapat tahu yang lamaran Fir’aun telah ditolak. Ibu bapa Asiah telah dicaci dan dihina. Haman kemudian telah pulang dan memberitahu kepada Fir’aun akan berita buruk tersebut dan Fir’aun telah menjadi marah dan memerintahkan supaya kedua ibu bapa Asiah ditangkap. Mereka telah diseksa dan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah itu Asiah ditangkap dengan menggunakan kekerasan dan kemudian dibawa ke istana Fir’aun dan bertemu dengannya. Di hapadapan Fir’aun, Asiah kemudiannya telah diketemukan dengan kedua ibu bapanya di dalam penjara. Asiah amat sedih melihat keadaan kedua orang tuanya yang disiksa oleh Fir’aun.

Kemudian Fir’aun berkata:

“Hai Asiah, jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau akan sayang terhadap orang tuamu, maka oleh kerana itu engkau boleh pilih satu antara dua. Kalau kau menerima lamaranku bererti engkau akan hidup senang dan akan aku bebaskan kedua orang tuamu. Dan sebaliknya jika engkau menolak lamaranku,maka aku akan perintahkan mereka untuk membakar hidup-hidup kedua orang tuamu di hadapanmu.”

Oleh kerana ancaman itu, maka Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun akan tetapi beliau telah meletakkan beberapa syarat:

1. Bahawa Fir’aun harus membebaskan kedua ibubapanya.
2. Harus membuatkan rumah yang indah lengkap dengan perkakas
3. Bahawa orang tuanya harus dijamin kesihatan beserta makan dan minumnya.
4. Bahawa Asiah bersedia menjadi isteri Fir’aun, hadir dalam acara-acara tertentu tetapi tidak bersedia tidur bersama Fir’aun.

Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak dipersetujui, beliau rela mati dibunuh bersama kedua ibu bapanya.

Akhirnya Fir’aun bersetuju menerima syarat-syarat tersebut dan memerintahkan agar rantai belengu yang ada di kaki dan tangan Asiah dibuka. Kini Asiah telah hidup mewah dan tinggal bersama-sama Fir’aun di dalam istana yang indah. Akan tetapi ia tidak membawa pengaruh terhadap kehidupan peribadi Asiah. Asiah tidak pernah engkar terhadap perintah agama dan beliau tetap taat mengerjakan ibadah kepada Allah SWT. Pada malam hari beliau selalu mengerjakan solat dan beribadah kepada Allah SWT. Beliau sentiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir miskipun suaminya Fir’aun. Bagi menyelamatkan Asiah dan menjaga kehormatannya, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyamar dirinya sama seperti rupa Asiah untuk tidur bersama Fir’aun.

Fir’aun sebenarnya mempunyai seorang pegawai yang amat dipercayai dan rapat dengannya yang bernama Hazaqil. Hazaqil telah berjaya merahsiakan identitinya yang sebenar. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami kepada Siti Masyithah yang bekerja sebagai juru hias istana yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT.

Pada suatu hari maka terjadilah perdebatan yang hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil di mana Fir’aun telah menjatuhkan hukuman mati terhadap ahli sihir yang beriman kepada Nabi Musa AS. Hazaqil menetang keras terhadap hukuman yang dijatuhkan kepada mereka semua kerana mereka semuanya beriman kepada Allah SWT. Mendengar akan kata-kata Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Akhirnya Fir’aun dapat tahu yang Hazaqil telah engkar kepada beliau dan kemudiannya telah dijatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah dan tidak merasa gentar demi untuk membela kebenaran. Hazaqil telah meninggal dunia dengan kedua-dua tangannya diikat pada pohon kurma dengan tembusan beberapa anak panah. Isterinya yang bernama Masyitah amat sedih sekali di atas kematian suaminya yang tersayang itu. Beliau sentiasa dirundung kesedihan dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada 2 orang anaknya yang masih kecil. Pada suatu hari Masyitah telah mengadu nasib kepada Asiah mengenai nasib yang menimpa dirinya. Di akhir perbicaraan mereka, Asiah juga telah menceritakan tentang keadaan dirinya yang sebenar. Hasil dari perbicaraan itu, barulah kedua-duanya mengetahui perkara sebenar bahawa mereka adalah wanita yang amat beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa AS.

ASIAH binti Mazahim merupakan seorang wanita Mesir yang baik budi pekertinya dan bijaksana dalam pemikirannya. Oleh kerana dia memiliki kecantikan yang tiada tolok bandingan, dia dipaksa berkahwin dengan Firaun, raja Mesir yang berkuasa pada ketika itu.

Pada suatu hari ketika Asiah sedang duduk bersantai bersama dayang-dayang istana, dia terlihat sebuah kotak kayu terapung-apung di tepian sungai yang mengalir merentasi istana Firaun.

"Ambil kotak itu dan bawa kepada beta," arah Asiah kepada salah seorang dayang yang berdiri di tepinya.

Dayang itu berlari pantas ke arah kotak yang sedang terapung-apung di tepian sungai. Dia mengangkat kotak kayu itu dari permukaan sungai lalu dibawakan kepada Asiah. Dia berdebar-debar untuk mengetahui isi kandungan kotak kayu itu.

"Comelnya bayi lelaki dalam kotak kayu ini!," jerit hati Asiah apabila penutup kotak kayu itu terbuka.

Pada ketika itu, Firaun memerintahkan masyarakatnya membunuh semua bayi lelaki Bani Israel kerana dia bermimpi bayi tersebut akan menghancurkan dan membinasakan kerajaan pemerintahan Firaun.

Apabila berita penemuan bayi lelaki itu sampai ke telinga Firaun, maka dia bergegas ke tempat Asiah dan bayi lelaki itu.

"Pengawal! Bunuh bayi ini sekarang..." Perintah Firaun kepada pengawal yang mengiringinya ke kamar Asiah.

"Bukankah kita tidak mempunyai anak lelaki. Anak lelaki ini dapat kita jadikan anak angkat. Saya merayu supaya bayi ini tidak dibunuh kerana saya sudah sayang kepadanya.

' Dia akan memberikan manfaat kepada kita berdua apabila dewasa nanti," Asiah menghalang niat jahat Firaun dengan kata-kata bijaksananya.

"Baiklah. Saya tidak akan bunuh bayi ini kerana perasaan cinta saya pada kamu," Firaun akur dengan permintaan isterinya, lalu keluar dari kamar itu.

Asiah memberi nama Musa kepada bayi tersebut dan memeliharanya sehingga dewasa di istana Firaun.

Apabila nabi Musa mula berdakwah menyebarkan ajaran Allah, maka Asiah terus menjadi salah seorang pengikutnya tanpa pengetahuan Firaun dan orang sekelilingnya.

Pada suatu hari, Asiah duduk menyisir rambut anak perempuannya di kamar tidur. Tiba-tiba sikat yang digunakan Asiah bagi menyisir rambut anaknya jatuh dengan kehendak Allah.

Asiah yang terkejut dengan kejadian itu terus berkata, "Binasalah Firaun yang dilaknat Allah dengan izinnya."

"Dengan nama Allah," ucap Asiah tanpa menyedari anaknya memerhatikan perbuatannya dengan perasaan hairan.

"Ibu, adakah tuhan lain selain ayah? Adakah ibu sudah menganut agama yang dibawa oleh Musa? Mengapa ibu sanggup mengikut agama Musa? Bukankah ibu menyelamatkan Musa sewaktu kecil apabila dia akan dibunuh oleh ayah," anaknya bertanya pelbagai soalan kepada Asiah dan menanti jawapannya.

Manusia biasa

"Firaun, ayah kamu adalah manusia biasa seperti kita semua dan bukan tuhan. Tuhan sebenar adalah Allah, tuhan semesta alam!" jawab Asiah tanpa perasaan takut dan gentar.

"Biar saya adukan perkara ini kepada ayah!," balas anaknya, lalu dia lari keluar dari bilik itu dan pergi mengadu kepada Firaun.

Firaun yang mendengar aduan anaknya berasa sangat marah dengan Asiah. Dia tidak menyangka Asiah sudah mengikut ajaran Allah walaupun dia melarang sesiapa sahaja di Negara Mesir mengikuti ajaran Allah.

Orang yang mengingkari larangan itu akan dijatuhkan hukuman berat jika diketahui oleh Firaun. Kini isterinya sudah mengikut ajaran Allah, maka dia harus berbuat sesuatu supaya isterinya keluar dari agama Allah.

"Dengarlah nasihat saya, wahai Asiah yang amat saya cintai dan sayangi.

"Keluarlah dari agama yang dibawa oleh Musa. Saya akan berikan segala harta dan istana di Mesir sebagai hadiah," Firaun cuba berlembut dan memujuk Asiah dengan kata-kata manisnya.

"Saya tidak akan sekali-kali keluar dari agama ajaran Musa yang benar dan suci. Nanti saya akan dimurkai oleh Allah, tuhan yang mencipta saya.

"Jika saya tetap dalam agama ini, saya percaya Allah akan memberikan syurga yang lebih baik dari harta dan istana kamu," tegas Asiah yang tenang dan berani bertentang mata dengan Firaun yang menyala dengan api kemarahan.

Usaha Firaun memujuk isterinya menemui jalan buntu. Dia tidak mahu menghukum Asiah kerana perasaan kasih sayang dan cinta yang mendalam terhadap isterinya. Dia cuba memikirkan cara lain bagi melembutkan hati Asiah supaya dia tidak beriman dengan ajaran nabi Musa.

Namun, semua ikhtiarnya gagal dan tidak menemui jalan penyelesaian. Firaun termenung. Wajahnya terbayang seribu kekecewaan kerana gagal memujuk Asiah. Akhirnya, dia mengambil keputusan menggunakan kekerasan kepada Asiah supaya dia berpaling dari agama Musa.

"Pengawal, tangkap Asiah dan bawa dia berjumpa beta sekarang!," perintah Firaun dengan nada keras.

"Oleh kerana kamu masih berdegil mahu mengikuti ajaran agama Musa, beta jatuhkan hukuman berat ke atas kamu," kata Firaun lagi.

"Pengawal, bawa perempuan ini ke tanah tinggi dan ikatkan pada empat batang kayu. Pakukan empat kayu itu ke bumi dengan menelentangkan badan perempuan ini menghadap langit.

"Biarkan bahang matahari yang panas, dan sejuk malam menyeksanya," Firaun meminta para pengawalnya menjalankan hukuman ke atas Asiah dengan segera.

"Allah! Allah! Allah!," mulut Asiah tidak henti-henti menyebut kalimat Allah sepanjang hukuman itu dijalankan.

"Ya Allah! Saya mohon supaya dilindungi dari bencana Firaun dan dianugerahkan sebuah rumah di syurga," doa Asiah yang terseksa dengan pancaran matahari yang sangat panas dan terik.

Akhirnya Asiah dapat melihat rumahnya di syurga dengan kehendak Allah yang membuka hijabnya. Hatinya sangat gembira sehingga lupa pada penderitaan dan kesakitan yang sedang diharunginya.

Selepas beberapa lama tempoh penyeksaan itu berlalu, Asiah akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan kalimat Allah di mulutnya.

Begitulah kisah wanita yang berhati waja. Dia tetap dalam keimanannya kepada Allah walaupun diseksa sehingga mati tanpa belas kasihan.

Puisi 43a :Wahai diri

Wahai diri,
Allah tidak akan menguji,
Jika bahumu tidak mampu dibebani,
Dia tidak akan memberi,
Jika kau tidak mampu menjalani.

Wahai hati,
Setiap dugaan adalah ujian,
Hingga kau mampu melepasi,
Ujian itu pasti datang lagi,
Hingga imanmu bertambah dan diperbaiki.

Berulang-ulang seperti musim berganti,
Menguji pohon hati,
Adakah segar atau mati.

Hatikan selalu teruji,
Selagi kaki masih di bumi,
Menjalani hari-hari iman diuji,
Oleh indah mahupun sedih saat menghadiri,
Hatikan terbuncah sepi sesejuk salji,
Jua tika terlupa hakikat diri di musim semi,
Dalam apapun jua detik-detik dan hari hari dilalui,
Ku mohon Tuhan, agar Kau sentiasa di sisi,
Usah biarkan aku berkelana sendiri.