Politeknik Tuanku Sultanah Bahiyah ptsb kulim, motivasi kesihatan dekorasi kerja sekolah dan puisi
Thursday, 25 January 2024
Tuesday, 23 January 2024
Gambar-gambar menarik di Mekah
Gambar menunjukkan tempat tentera Abrahah terbunuh sewaktu ingin menyerang Mekah
Gambar train untuk membawa jemaah ketika haji
Gambar gambar jalan yang dilalui oleh nabi dan abu bakar ketika berhijrah ke Madinah
Saturday, 20 January 2024
Kisah nabi Musa bertemu nabi Khidir
Kisah ini bermula saat Nabi Musa AS ditanya oleh kaum Bani Israil tentang manusia yang paling alim di muka bumi. Dijawab oleh Nabi Musa, “Tidak ada lagi yang paling alim di muka bumi selain aku.” Akibat jawaban itu, Nabi Musa ditegur Allah.
Tak hanya itu, Allah juga menurunkan wahyu kepadanya, “Sesungguhnya, aku memiliki seorang hamba di pertemuan dua laut yang lebih alim darimu.”
Nabi Musa menjadi bingung, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku boleh bertemu dengannya?”
Allah menjelaskan, “Bawalah olehmu seekor ikan. Lalu simpan dalam bekas. Di mana ikan itu menghilang, di sanalah hamba itu berada.”
Hamba dimaksud tak lain adalah Nabi Khidir alaihis salam
Singkatnya kisah, Nabi Musa mengambil seekor ikan lalu memasukkannya ke dalam bekas. Setelah itu, dirinya berangkat ditemani seorang pemuda muridnya yang bernama Yusya‘ ibn Nun.
Tibalah keduanya di sebuah batu besar. Tetapi bermaksud untuk merebahkan kepala sejenak, keduanya justru tertidur. Sementara ikan yang ada dalam bekas mulai meronta, hingga akhirnya keluar dan terjatuh ke laut.
Kejadian ini pun diceritakan dalam Al-Quran dalam Surat Al-Kahfi, “Lalu ikan itu melompat dan mengambil jalannya ke laut.”
Ketika Nabi Musa terbangun, kawannya lupa mengkhabarkan kepadanya tentang keberadaan ikan. Keduanya justru melanjutkan perjalanannya selama sehari semalam. Keesokan harinya, Musa baru berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini.”
Semula memang Nabi Musa seperti yang tidak mendapati rasa letih, hingga tibalah di tempat yang diperintahkan Allah dan bertanya demikian. Muridnya lantas menjawab, “Tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (bercerita tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakanku kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang sangat aneh.”
Benar sekali, ikan itu mengambil jalannya di laut, sehingga Musa dan muridnya pun hairan. Musa kembali berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Akhirnya, keduanya pun kembali. Mengikuti jejak mereka semula
Keduanya menyusuri jejak mereka semula, hingga sampai lagi di tempat tadi. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berselimutkan sebuah kain. Musa pun mengucap salam dan dijawab oleh lelaki berselimut yang belakangan dikenali sebagai Khidir itu, “Bagaimana salam di tempatmu?”
Musa lalu memperkenalkan diri, “Aku adalah Musa.” Ditanya oleh Khidir, “Apakah Musa kaum Bani Israil?” Musa menjawab, “Benar. Aku menemuimu agar engkau mengajarkan aku sebuah ilmu.”
Kemudian, Musa meminta izin untuk mendampingi dan mengikuti Khidir. Namun, keinginannnya itu diragukan oleh hamba saleh itu, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, wahai Musa, sebab aku memiliki sebuah ilmu Allah yang telah diajarkan kepadaku, namun tidak engkau ketahui. Begitu juga engkau memiliki ilmu Allah yang telah diajarkan-Nya kepadamu, tetapi tidak aku ketahui.”
Musa pun berusaha meyakinkan Khidir, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”
Secara tidak langsung, Khidir menjanjikan kepada Musa bahwa kemampuannya untuk bersabar ditentukan oleh perkenan dan kehendak Allah. Tak lupa, sang hamba memberi syaratn kepada Musa agar tidak bertanya apa-apa kepadanya sampai dirinya menjelaskan semua alasan di balik apa yang dilakukannya.
“Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Berjalanlah Nabi Musa dan Nabi Khidir menyusuri pinggiran pantai. Saat ingin menyeberangi pantai yang lain, keduanya mendapati kapal kecil yang tengah mengangkut para penumpang. Untungnya, para awak kapal telah mengenali Khidir. Singkatnya, mereka pun membawa Khidir dan Musa menuju pantai yang dituju tanpa diminta imbalan apa pun.
Di saat demikian, keduanya melihat seekor burung yang hinggap di pinggir kapal. Lalu sang burung meminum sedikit air laut dengan paruhnya. Khidir berbisik kepada Musa, “Demi Allah, tidaklah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah kecuali seperti air laut yang diambil burung itu dengan paruhnya.”
Saat keduanya berada di dalam kapal, Nabi Musa merasa heran luar biasa karena melihat Khidir melubangi kapal tersebut dengan melepas salah satu papannya. Musa pun lupa dan ingkar akan janjinya. Dalam pikirnya, setiap kerusakan di muka bumi adalah kejahatan. Dan kejahatan lebih berat lagi karena dilakukan kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada dirinya.
Nabi Musa lantas menanyakannya, “Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya akan menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah berbuat satu kesalahan besar.”
Di sana Khidir mengingatkan Nabi Musa akan janjinya, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’"
Pertanyaan Nabi Musa yang pertama dilakukannya karena lupa, sebagaimana yang disampaikan dalam Rasulullah saw.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan. Namun, Nabi Musa kembali melihat keanehan yang dilakukan Khidir saat mengambil seorang anak kecil yang sedang aktif bermain, kemudian menidurkannya. Anak itu lalu disembelih dan kepalanya dipisahkan dari tubuhnya.
Melihat hal itu, lagi-lagi Musa tak mampu bersabar. Ia kembali mengingkari janjinya. Padahal, dirinya tahu akan janji yang telah disampaikannya, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu yang mungkar.”
Khidir pun melontarkan teguran yang sama kepada Musa, “Bukankah aku telah berkata, “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku."
Di sini Musa pun menyedari jika dirinya tidak akan mampu lama-lama menemani Khidir, sang hamba yang saleh itu. Ia tak kuasa melihat setiap kejadian yang dialaminya, sementara dirinya terdiam. Keadaan itu kembali kepada dua hal.
Pertama, kembali kepada tabiat Musa. Sebagai sosok yang berjiwa pemimpin, Musa mungkin sudah terbiasa kritis atas setiap apa yang telah dilihatnya. Di saat yang sama, ia tidak terbiasa berdiam diri ketika melihat perkara yang tidak disukainya.
Kedua, syariat Musa tidak membenarkan pembunuhan terhadap seorang anak, kemudian membiarkan pembunuhnya, bagaimana pun keadaan pelakunya.
Ertinya, dalam hal ini, Nabi Musa mengakui kesalahan yang dilakukannya terhadap Khidir. Karenanya, ia kembali meminta kesempatan yang ketiga dan berjanji, jika kembali bertanya sesuatu, dirinya berhak untuk berpisah dan ditinggalkan Khidir.
Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai di suatu kampung yang penduduknya kikir. Mereka berdua mencari orang-orang yang berkenan menjamu. Namun, tidak mendapatinya seorang pun. Meski demikian, Khidir tetap memperbaiki sebuah dinding rumah di kampung tersebut yang nyaris roboh.
Lagi-lagi merupakan perkara aneh. Mereka diketahui sebagai kaum yang kikir, namun Khidir mau memperbaiki dinding rumah mereka tanpa mendapat imbalan apa pun.
Di sinilah Musa sudah memilih untuk berpisah dengan Khidir. Hal itu ditunjukkan dalam pertanyaannya tentang alasan mengapa Khidir mau memperbaiki rumah para penduduk kampung itu tanpa imbalan sedikit pun. Padahal, dari mereka tidak ada yang mau menyambut dan menjamu.
Seandainya, Musa bersabar dalam mendampingi Khidir, tentu Nabi Musa akan mendapatkan banyak keajaiban dan rahasia yang dialaminya. Sayangnya, Nabi Musa memilih berpisah setelah Nabi Khidir menjelaskan rahasia di balik semua yang dilakukannya.
“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Maka, aku bermaksud membuatnya cacat karena di hadapan mereka ada seorang raja (zalim) yang merampas setiap perahu (yang terlihat masih bagus),” jelas Nabi Khidir pada Musa.
“Adapun anak (yang aku bunuh) itu, kedua orang tuanya mukmin dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk durhaka dan berbuat kufur.”
“Maka, kami menghendaki bahwa Tuhan mereka menggantinya (dengan seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).”
“Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka orang saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya,” terang Khidir.
Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir ini pun diabadikan Al-Qur'an dalam Surat al-Kahfi mulai ayat 61 sampai ayat 82.
Hikmah Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir
Dari kisah di atas ada sejumlah pelajaran yang dapat dipetik:
Kita sangat dianjurkan untuk berdiskusi atau berdialog dalam urusan ilmu.
Seorang alim diwajibkan menyebarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain.
Perjalanan menuntut ilmu merupakan perjalanan istimewa. Nabi Musa sendiri menempuh perjalanan yang cukup melelahkan demi menemui seorang yang lebih alim dari dirinya.
Kedudukan dan keutamaan dirinya tidak sampai menghalangi Musa untuk menemui dan mengikuti orang yang diharapkannya memberikan ilmu.
Kita disyariatkan untuk melayani dan mengabdi kepada ahli ilmu dan pemilik keutamaan. Yusya ibn Nun, misalnya. Ia mengabdi kepada Musa. Begitu pula Anas ibn Mālik juga melayani Rasulullah saw.
Seorang hamba diperkenankan bercerita rasa lelah, kesulitan yang dialami, atau keadaan penyakit, dengan catatan tidak membenci atau menyalahkan takdir yang telah ditetapkan untuk dirinya.
Khidir tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah diberitahukan Allah kepadanya.
Kisah di atas meyakinkan kepada kita bahwa Allah maha kuasa untuk menghidupkan sesuatu yang sudah mati, seperti menghidupkan ikan yang dibawa Nabi Musa.
Melalui hadits itu, kita diajarkan untuk tetap bersikap lemah lembut kepada pengikut atau pelayan kita. Contohnya sikap Nabi Musa terhadap muridnya yang lupa mengkhabarkan akan hilangnya ikan.
Nabi Khidir telah melubangi kapal dan membunuh seorang anak. Namun kemudian dikabarkan bahwa apa yang dilakukannya semata-mata perintah dan kehendak Allah sebagai bentuk kasih sayang-Nya.
Seorang yang bermaksud mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, disunnahkan mengucap “insya Allah,” yang artinya ‘jika Allah menghendaki.’
Di antara etika seorang murid atau santri di hadapan gurunya adalah menunjukkan sikap sabar dan menaati setiap perintahnya.
Hadits di atas menunjukkan betapa kecilnya ilmu manusia di hadapan Allah. Di dalamnya disebutkan bahwa Khidir berkata kepada Musa, “Tidaklah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah kecuali seperti air laut yang diminum oleh burung itu dengan paruhnya.”
Hikmah Allah yang ditetapkan bagi para hamba-Nya ternyata tidak terlihat. Baru kemudian, hikmah yang semula dianggap buruk dan ujian oleh seseorang itu menjadi kenikmatan dan kebaikan.
Allah mempersiapkan anak yang saleh dengan kesalehan orang tuanya. Dalam kisah di atas, dikatakan bahwa Khidir memperbaiki dinding yang nyaris roboh. Tujuannya untuk melindungi gudang harta yang ditinggalkan kedua orang tua untuk anak-anaknya.
Kita juga harus selalu menisbahkan kebaikan kepada Allah. Di saat yang sama, kita juga tidak diperkenankan menisbahkan keburukan pada-Nya.
Kita diperbolehkan melakukan sesuatu yang bahayanya lebih ringan demi menghindari bahaya yang lebih berat.
Kita tidak dilarang untuk merusak sebagian harta demi menyelamatkan harta yang lebih banyak.
Saat bepergian, kita disyariatkan untuk membawa perbekalan. Setelah menempuh perjalanan panjang, Musa meminta muridnya untuk mengambil makanan yang dibekalnya.
Seseorang harus berhati-hati mengingkari pendapat para ahli ilmu dan orang-orang saleh. Berusahalah untuk mencari dasar pandangan dan alasan mereka mengapa bertentangan dengan dugaan orang kebanyakan.
Kisah pemilikan tanah di Gaza oleh Yahudi...
Sewaktu tim misi CGM menziarahi beberapa buah keluarga di kem pelarian Palestin, tim misi CGM telah bertemu dengan beberapa keluarga di sana.
Team misi ini ditunjukkan sijil pemilikan tanah yang dimiliki oleh penduduk Palestin di wilayah Tabariya. Sijil itu bertarikh pada tahun 1928.
Bayangkan, lebih 96 tahun keluarga ini simpan geran tanah ini dan sehingga ke hari ini masih berharap untuk kembali pulang ke tanah air Palestin 😢
#BantuSebelumBeku
Friday, 19 January 2024
Gambar dron: Sebab dan Faedah Penggunaan Dron
Ciri2 seorang yang layak bergelar Imam Mahadi
Melihat kepada keadaan di dunia di mana tanda2 akhir zaman semakin banyak yang telah berlaku, semakin gementar jiwa hamba2 Allah akan kehadiran hari kiamat. Justeru, semakin ramai pulak individu yang mengakui mereka lah Imam Mahadi. Jom kita perhatikan ciri2 seorang yang layak menjadi Imam Mahadi.
Di antara sifat Imam Mahdi AS adalah:
1. Namanya sama dengan nama Nabi Muhammad SAW
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Mas'ud berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak hancur dunia (kiamat) sehinggalah bangsa Arab akan dikuasai oleh seorang lelaki daripada kalangan ahli baitku (Nabi) yang namanya sama dengan namaku (Nabi)." (Riwayat Imam Tirmizi)
2. Imam Mahdi AS adalah keturunan Nabi SAW.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Al Mahdi daripada keturunanku daripada anak Fatimah AS." (Riwayat Abu Daud)
3. Dahinya luas dan hidungnya mancung.
Hadis daripada Abu Said al Khudri RA berkata, Rasulullah SAW telah bersabda: "Al Mahdi daripadaku.
Dahinya luas dan hidungnya mancung. Dia akan memenuhkan bumi dengan keadilan sebagaimana ia dahulunya dipenuhi dengan kezaliman dan dia akan menguasai selama tujuh tahun." (Riwayat Abu Daud)
4. Tempat kelahiran Imam Mahdi AS
Berkenaan dengan tempat kelahiran Imam Mahdi AS, terdapat perbezaan para alim ulama dalam menentukan tempat kelahirannya. Ada yang mengatakan bahawa beliau dilahirkan di Maghrib dan ada yang mengatakan dilahirkan di Andalus.
Tetapi pandangan yang tepat adalah di Madinah al Munawwarah seperti mana diriwayatkan oleh Saidina Ali bin Abi Talib RA dan al Imam Abu Nuaim al Asfahani di dalam kitabnya berjudul al Sa'ah li Asyrath al Sa'ah, ada menyebutkan beberapa ciri-ciri yang terdapat pada diri Imam Mahdi AS:
Pertama, di bahagian bahunya terdapat tanda yang sama pada bahu Nabi Muhammad SAW
Kedua, akan berkumpul bersama-sama dengan Nabi Isa AS.
Ketiga, Nabi Isa AS akan menunaikan sembahyang di belakang beliau.
Keempat, penduduk bumi akan merasa cukup ketika beliau memerintah dan akan kelihatan banyaknya keberkatan daripada tampuk pimpinannya.
Ada sebahagian ulama mengatakan bahawa ciri-ciri Imam Mahdi AS adalah kedua-dua matanya bercelak, wajahnya bercahaya seakan-akan beliau adalah bintang yang menyinar, warna kulitnya adalah warna orang Arab.
Umurnya empat puluh tahun dan dalam sebahagian riwayat tiga puluh hingga empat puluh dan akhlak beliau seperti akhlak Nabi Muhammad SAW.
Imam Ibn Katsir menyatakan pandangannya tentang keluarnya Imam Mahdi AS di dalam kitab al Fitan wal Malahim adalah ketika turunnya Nabi Allah Isa AS, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabi Bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda: "Isa bin Maryam AS turun lalu berkata pemimpin mereka (al Mahdi): Marilah solat bersama kami. Lalu Nabi Isa AS berkata: Tidak, sesungguhnya sebahagian kalian menjadi pemimpin atas sebahagian yang lain. Kemuliaan Allah kepada umat ini." (Riwayat Muslim)
Dengan adanya tanda-tanda yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW melalui sabdanya, kita mengetahui tentang Imam Mahdi AS yang sebenar dan boleh kita buat perbandingan terhadap golongan yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi AS.
Bahkan Mesyuarat Jawatankuasa Perundingan Hukum Syarak Wilayah Persekutuan Kali Ke-81 pada 19 April 2012 telah membincangkan dan memutuskan bahawa ciri-ciri ajaran sesat yang disenaraikan adalah merupakan amalan, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah. Ia adalah sesat dan menyeleweng daripada akidah Islam yang sebenar serta haram dilakukan. Antaranya ialah mendakwa sebagai Imam Mahdi.
Thursday, 18 January 2024
Syair Abu Nawas yang Menyebabkan Imam Syafi'i Menangis
Penyair terkenal zaman Abbasiyah, Abu Nawas pernah bertemu Imam Syafi'i (150-204 H) di Kota Baghdad. Abu Nawas bernama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, lahir Tahun 145 Hijriyah di Kota Ahvaz Persia yang sekarang berada di Iran.
Warga Baghdad memberinya julukan "Abu Nawas" karena ia memiliki rambut yang ikal dan panjang. Ia dikenal sebagai penyair cerdas dan sering berpura-pura gila. Perkataan dan syairnya penuh dengan hikmah dan pelajaran.
Dikisahkan, Imam Syafi'i pernah menangis setelah membaca Syair Abu Nawas yang dikenal dengan nama Syair Al-I'tiraf. Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi'i tidak mau mensholatkan jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan "Syair Al-I'tiraf" (pengakuan). Syair tersebut ditulis Abu Nawas menjelang akhir hayatnya..
Jom kita hayati "Syair Al-I'tiraf" beliau:
إِلٰهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلَا
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaa.
(Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga)
وَلَا أَقْوَى عَلَى النَّارِ الجَحِيْم
Wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi.
(Tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahanam)
فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي
Fahablii taubatan waghfir zunuubii.
(Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku)
فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْم
Fa innaka ghaafirudz dzambil 'azhiimi.
(Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar)
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادٍ الرِّمَالِ
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali.
(Dosaku bagaikan bilangan pasir)
-
Layari juga: doa-untuk-anak-anakku puisi-anakku-tercinta puisi-1-doa-untuk-anak-anakku puisi-2-doa-buat-anak-anakku puisi-3-wahai-anak...
-
Sumber: website HKL Berikut adalah senarai hospital kerajaan terbaik di Malaysia , berdasarkan ranking antarabangsa dan maklum balas dal...
-
Mulakan langkah mu dengan fikiran terbuka Setiap insan punyai kelebihan sendiri Asah kemahiran di peringkat lebih tinggi Usaha dan harapan ...


















